Ngusaba Nyepeg Penjor

Ngusaba Nyepeg Penjor is one of temple ceremonies which is intended to pray for fertility of farmland and prosperity. Ngusaba Nyepeg Penjor is held every 5 years (sometimes the ceremony cannot be held and it is delayed due to some problem). The ceremony begins with making penjor by krama lanang (men member in the village community). Bamboo for making penjor is taken from the chosen place. The place for making penjor is surrounded by white fabric so krama istri (women member in the community) cannot see it. As local beliefs, even women are not allowed passing the place where the penjor is made. This is to keep the penjor is in holiness. Penjor fills with tirta (the blessed holy water) and installed at the both side of the street. At the summit of the ceremony, penjor will be cut and the holi water will be used for sanctify the shrine and 3 days after the ceremony, the left over tirta in the penjor will be share among krama (member of the community) to be sprinkle over the farmland.

 

=== Bahasa Indonesia ===

Ngusaba Nyepeg Penjor merupakan salah satu jenis upacara yang bertujuan untuk memohon kemakmuran, dan kesuburan tanah pertanian. Upacara Ngusaba Nyepeg Penjor ini biasanya digelar setiap 5 tahun sekali. Upacara diawali dengan pembuatan penjor oleh krama lanang (laki-laki). Bambu diambil dari tempat yang telah ditentukan dan pada waktu menebang, potongan bambu tidak boleh menyentuh tanah. Tidak seperti pembuatan penjor pada umumnya, untuk penjor yang akan dipasang di kanan, digunakan bambu dengan jumlah lawas 6 dan untuk penjor yang akan dipasang di sebelah kiri, jumlah lawasnya harus 5. Bambu ini dihias dengan hasil bumi seperti buah-buahan, kelapa dan jagung.

Pembuatan penjor dilakukan di tempat khusus di sekitar areal pura tempat berlangsungnya upacara. Pada lokasi tersebut, dibuatkan pembatas dari lidi pohon aren yang diikat dengan benang tridatu serta ditutup dengan kain putih. Hal ini dimaksudkan agar proses pembuatan penjor tidak terlihat oleh krama istri (wanita). Untuk tetap menjaga kesucian penjor, krama istri juga tidak diperbolehkan untuk melintas di lokasi tempat pembuatan penjor.

Penjor yang telah dihias kemudian diisi dengan tirta (air suci) yang bersumber dari pasiraman Toya Slaka di dusun Buungan. Pada saat proses mencari tirta, juga tidak boleh dilihat atau berpapasan dengan krama istri.  Pada puncak karya, penjor yang telah berisi tirta dipotong dan tirtanya digunakan untuk penyucian linggih Ida Sesuhunan. Tiga hari setelah karya, tirta yang masih tersisa di penjor akan dibagikan kepada krama untuk dipercikkan pada lahan pertanian atau peternakan.

 

=== Sumber : I Ketut Sudirpa, Bendesa Gebok Satak Tiga Buungan. Bali Post 31/10/18 ===

Leave a Reply

90 − 81 =