Wana Kertih

Wana Kertih is part of Sad Kertih or six kinds of ceremony dedicated for holiness and balance of nature either skala (the world we can see) or niskala (the unseen world). Sad Kertih consist of Atman Kertih (ceremony for the soul), Jana Kertih (ceremony for holiness and balance in ourselves), Wana Kertih (ceremony for holiness and balance of nature: the forest, mountain, etc.), Danu Kertih (ceremony of holiness and balance for the source of water e.g. lake, river, spring, etc.), Samudera Kertih (ceremony for holiness and balance of the beach and the ocean), and Jagat Kertih (ceremony for holiness and balance of living creature in the universe).

=== Bahasa Indonesia ===

Upacara Wana Kertih adalah bagian dari tatanan upacara Yadnya Sad Kertih, yaitu enam jenis upacara untuk menjaga hubungan kesucian dan keseimbangan alam, baik secara skala (lingkungan kita yang nampak/kelihatan) maupun secara niskala (dunia yang kasat mata, yang tak terlihat atau alam makhluk halus) dimana satu sama lain saling berhubungan. Upacara Sad Kertih terdiri dari:

  • Atman Kertih, menegakkan kesucian bagi atman atau jiwa-jiwa yang telah meninggalkan dunia material ini.
  • Jana Kertih, menegakkan kesucian atau keseimbangan dalam diri kita sendiri.
  • Wana Kertih, menjaga kesucian atau kelestarian hutan dan pegunungan, baik yang belum tersentuh manusia maupun kawasan hutan yang dimanfaatkan sebagai sumber kegiatan ekonomi.
  • Danu Kertih, menjaga kesucian atau kelestarian sumber-sumber air tawar seperti danau, berbagai sumber mata air dan sungai.
  • Samudera Kerti,¬†menjaga kesucian atau kelestarian pantai dan lautan.
  • Jagat Kertih,¬†menjaga kesucian atau keharmonisan hubungan antara semua mahluk di alam ini.

Menurut AA Ngurah Gede Panji Wisnu, penglingsir puri Kediri, ketua panitia upacara Wana Kerti yang dilaksanakan pada tanggal 1 Desember 2018 di Pura Luhur Pekendungan, Tanah Lot, Desa Beraban, Kediri, Tabanan, yang kami kutip dari Bali Post, mengatakan bahwa upacara ini bertujuan agar mrana atau hama yang sering merugikan krama subak di wilayah desa adat pengempon Pura Luhur Pekendungan maupun subak lainnya, dapat ditempatkan di pelinggih sehingga tidak menyebar kemana-mana. “Upacara ini bertujuan mengharmoniskan alam dan ekosistem secara sekala dan niskala, sehingga memberi dampak bagi kesejahteraan masyarakat banyak. Upacara ini baru pertama kali dilakukan di Pura Luhur Pekendungan, setelah mendapat petunjuk dari orang suci berdasarkan Purna Sad Kertih dan Lontar Pancawati. Mengingat pentingnya upacara ini, rencananya, upacara serupa akan dilaksanakan setiap 30 tahun sekali” katanya menambahkan.

Leave a Reply

86 − = 77