Glossary C-D

C – D (update periodically)

Canang, canang sari (pronunciation ‘chanang’) : according to the late Ida Pedanda Gede Made Gunung, a Hindu priest, “canang” derived from the Kawi language. ‘Ca’ means beauty and ‘nang’ means  purpose. Chanang made from coconut leave and some flowers upon it. Chanang is used in praying either in the temples or at home.
Canang, canang sari : Menurut almarhum Ida Pedanda Gede Made Gunung, seorang rohaniwan Hindu, kata “canang” berasal dari bahasa Kawi,  ca =indah dan nang = tujuan. Dengan demikian, makna canang bisa diartikan sebagai sebuah sarana yang bertujuan untuk memohon keindahan (sundharam) ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Canang merupakan sarana persembahyangan umat Hindu yang terbuat dari anyaman daun kelapa sebagai alas dengan diisi beberapa jenis bunga diatasnya.

Caru : (caru, mecaru) caru is a sacrificial animal which is offered in a particular ceremony. Mecaru is a kind of ceremonies which is use an animal as a main offering.
Caru : (caru, mecaru) caru adalah sebutan untuk hewan yang akan dipergunakan sebagai korban suci dalam suatu upacara. Mecaru adalah melakukan upacara yang menggunakan caru.

Catur Wangsa : is a classification based on birth and blood ties. A child will inherit the lineage from the parent / father.
Catur Wangsa : merupakan penggolongan kelompok berdasarkan kelahiran dan pertalian darah. Seorang anak akan mewarisi garis keturunan dari orang tua laki-laki / sang ayah.

Catur Warna : classification based on someone’s profession or dharma (duty) in his life. There are four classifications: brahmana (dedication to the spiritual and religious things), ksatrya (dedication in leadership), wesya (dedication in trading and economic affairs), and sudra (dedication as the manpower).
Catur Warna : pembagian / penggolongan jenis kehidupan berdasarkan profesi / karma seseorang. istilah catur warna mengacu kepada pembagian profesi / keahlian menjadi empat golongan, yaitu: brahmana (pengabdian di bidang kerohanian), ksatrya (pengabdian di bidang kepemimpinan dalam masyarakat), wesya (pengabdian dibidang perekonomian) dan sudra (pengabdian di bidang tenaga kerja).

Cuntaka : cuntaka is a circumstances of a person which is consider as “unholy spiritually” due to the some reasons such as in mourning because there is family / relatives had died, a woman in her period / menstruation, unwed pregnancy, etc.
Cuntaka : merupakan suatu keadaan tidak suci secara spiritual yang disebabkan oleh beberapa hal antara lain misal jika ada kerabat yang baru meninggal, wanita yang sedang menstruasi, bersalin, keguguran kandungan, hamil diluar nikah dan sebagainya.

Dadong : grandmother. A name to call the old sudra woman especially for those who had grand children, either direct grand child from their children or the son/daughter of their nephew.
Dadong : sama dengan nenek dalam bahasa Indonesia. Dadong adalah nama panggilan untuk wanita yang berasal dari golongan sudra yang telah memiliki cucu, baik cucu yang berasal dari keturunan langsung (anak dari anaknya) atau cucu tidak langsung, misal anak dari keponakannya.

Daha Teruna : deha or daha means the female child which become a girl. This transition period (generally) is marked by experienced the first menstruation. Meanwhile teruna is term for the boy teenager. (see munggah daha teruna)
Daha Teruna : daha berarti anak perempuan yang sudah memasuki remaja ditandai dengan mengalami menstruasi yang pertama. Teruna berarti anak laki-laki yang telah memasuki akil balig, telah remaja. (lihat: munggah daha teruna)

Desa Pakraman : there are 2 kinds of village management: desa dinas and desa pakraman. Desa dinas is an official administrator under the national / Indonesia government system, meanwhile desa pakraman is a customary village management which control religious and cultural affairs in the community.
Desa Pakraman : ada dua jenis pemerintahan tingkat desa, yaitu desa dinas dan desa pakraman. desa dinas terkait dengan urusan pemerintahan yang bersifat administratif dan berlaku secara nasional sementara desa pakraman terkait dengan hal-hal yang berurusan dengan kegiatan kultural dan keagamaan dengan kewenangan tertentu yang berlaku di lingkup desa saja.

Diksa Suputra : suputra derrived from the word su which mean good, and putra which means son/daughter, so suputra means children who devote to the ancestor, respect to the parents, live harmoniously with brother/sisters, succeed and happy in life. Diksa is a ritual to receive blessing and knowledge and to eliminate ignorance. Diksa suputra is a ritual for kids to be suputra.
Diksa Suputra : suputra berasal dari kata su yang berarti baik dan putra yang berarti anak. Anak suputra berarti anak yang berbakti kepada leluhur, hormat kepada orang tua dan rukun dengan saudara dan meraih hidup sukses dan bahagia. Diksa Suputra adalah suatu upacara yang bertujuan untuk membimbing dan mendoakan anak agar menjadi anak yang suputra.

Dewa Yadnya : a ceremony for Ida Sang Hyang Widhi Wasa, the almighty God and all His manifestations in tri murti; Brahma as the creator, Wishnu as the preserver, and Siwa as destroyer. The Dewa Yadnya ceremonies include implemented of tri sandhya, full moon / dark moon ceremony, piodalan/temple festival etc.
Dewa Yadnya : adalah sebuah upacara persembahan yang ditujukan kepada sang pencipta (kehadapan Ida Sang Hyang Widhi) beserta dengan manifestasinya dalam bentuk tri murti; Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wishnu sebagai pemelihara dan Dewa Siwa sebagai pelebur atau praline dari alam semesta. Contoh pelaksanaan Dewa Yadnya: melaksanakan puja tri sandhya, persembahyangan pada saat purnama dan tilem, piodalan, dan sebagainya.

Leave a Reply

− 1 = 4