Glossary K-L

K – L (update periodically)

Kajeng Kliwon : Due to the Bali beliefs, each day has its influence, either good or bad. Kajeng Kliwon is the day that has these influences at the same time. For that reason, Kajeng Kliwon has a magical power and therefor it’s consider a special day in Bali.  According to Ida Pedanda Gde Simpangan Manuaba from Gria Gede Simpangan Tegalantang, Ubud, on this day the Hindu people of Bali purify themselves in other to receive strength and power. This day is also auspicious for pamusapati, ceremony in which the spirit is invited into sacred object such as the Barong, the Rangda, Mask, Amulets Krises etc. to keep the spiritual power.  A small ceremony at the village temples and family temple in the house compound. There are two Kajeng Kliwons: Kajeng Kliwon Uwudan and Kajeng Kliwon Enyitan. Kajeng Kliwon Uwudan is to neutralize the negative powers and Kajeng Kliwon Enyitan is to increase the positive powers.
Kajeng Kliwon : Masing-masing hari memiliki pengaruh, entah baik maupun buruk. Kajeng kliwon adalah hari yang memiliki keduanya pada saat yang bersamaan, karenanya kajeng kliwon dianggap sebagai hari special yang memiliki ‘kekuatan’ yang lebih dibanding hari-hari biasa. Hari ini merupakan hari baik untuk melakukan pasupati, sebuah upacara untuk mengisi kekuatan spiritual pada benda-benda pusaka. Ada dua Kajeng Kliwon, yaitu kajeng kliwon uwudan dan kajeng kliwon enyitan. Untuk menetralisir kekuatan jahat upacara dilakukan pada kajeng kliwon uwudan sementara kajeng kliwon enyitan merupakan saat yang tepat untuk meningkatkan kekuatan yang bersifat positif.

Kulkul : kentungan in Bahasa Indonesia, kulkul is a traditional communication tool which still use in Bali. As an announcement tool for many occasions, the sound from the kulkul is differed by hitting intensity. Hitting with slower tempo has different meaning if it is hit intensely and noisy. All announcement including notifications of what is going on in the village can be done with the sound of kulkul.
Kulkul : bahasa Indonesianya kentongan, kulkul adalah alat komunikasi tradisional yang masih dipergunakan di banjar-banjar / desa di Bali untuk memberi tahu akan adanya satu pertemuan atau kejadian yang sedang berlangsung di lingkungan setempat. Suara kulkul memiliki irama yang berbeda untuk setiap panggilan atau pengumuman atau  pemberitahuan akan suatu kejadian. Suara dibedakan berdasarkan intensitas pukulan mulai dari yang paling lambat dan jarang hingga pukulan dengan suara yang keras dengan irama yang cepat.

Kulkul bulus : refer to the such particular occasion which need to announce to aware people such as wirefire in the housing, etc. The sound of kulkul bulus is very intense and noisy so it won’t be missed by the community as they are needed to gather as soon as possible and do an action.
Kulkul bulus : sebuah istilah untuk penggunaan / membunyikan kulkul dengan intensitas tertentu, tempo yang sangat cepat dan bertalu-talu sehingga menghasilkan suara yang keras dan menarik perhatian. Biasanya dibunyikan terkait dengan adanya satu peristiwa yang memerlukan perhatian segera karena bersifat darurat seperti terjadinya kebakaran atau peristiwa yang memerlukan pengumpulan massa dengan sangat segera dan mendadak.

Ksatrya : one of 4 classifications in someone’s position in the society based on the profession (see: catur warna)
Ksatrya : salah satu penggolongan masyarakat dari empat jenis profesi sebagaimana terdapat dalam catur warna. (lihat: catur warna)

Lamak : is one of the ceremonial objects made from coconut leaves and/or palm leaf. The symbolic patron/decoration made from green leaves which is attached upon the yellowish one using small bamboo stick, which make lamak looks beautiful. Lamak is placed on pelinggih (shrines) as based to put on the offerings.
Lamak : lamak merupakan salah satu perlengkapan upacara yang terbuat dari daun kelapa atau daun enau yang dirajut dengan lidi. Daun yang berwarna hijau dipakai untuk membuat motif khas yang kemudian ditempelkan dengan menggunakan lidi pada daun yang berwarna krem / kuning sehingga membuat lamak tampak sangat indah. Lamak biasanya ditempatkan dengan cara digantung di pelinggih /tempat meletakkan sesajen / persembahan.

Lawar : one of the special Bali foods. It made from vegetable mixed with minced meat and thinly sliced of meat-skin. Vegetables (such as jack fruit, raw papaya, long bean, fern leaves, etc.) is boiled and slice thinly. The meat can be from chicken, duck, goat, or beef, etc. Lawar is not just for consumption but it also for the offering in such particular ceremony such as galungan, odalan, etc.
Lawar : lawar adalah salah satu masakan/makanan khas Bali. Dibuat dari jenis sayuran tertentu yang dicampur dengan daging cincang dan irisan kulit ayam, babi, atau sapi yang telah direbus. Sayuran yang umum digunakan seperti nangka muda, daun pakis, kacang panjang, pepaya muda, dan sebagainya. Selain disantap bersama nasi sebagai lauk, lawar juga dipergunakan sebagai sesajen/persembahan pada upacara tertentu seperti pada hari raya Galungan, atau pada saat upacara odalan di pura.

Lembu : along with wadah / bade, lembu is one of the instruments in cremation ceremony. Lembu‘s shape is look like a cow with the prepared space in the spine to put the corpse. (see: bade)
Lembu : bersama dengan wadah, lembu merupakan salah satu kelengkapan dalam upacara kremasi atau di Bali dikenal dengan istilah ngaben / plebon untuk upacara kremasi keturunan dari keluarga ningrat. Dari rumah duka, mayat dibawa menggunakan wadah / bade ke setra/kuburan untuk kemudian ditempatkan pada lembu, tepatnya dirongga atas punggung yang memang telah disiapkan untuk menempatkan mayat yang akan dikremasi.(lihat bade)

Leave a Reply

+ 25 = 30